Alasan Pramono Anung Kritik JPO 'Love-Hate' di Rasuna Said: Menyorot Estetika dan Aksesibilitas

Pramono Anung menyoroti keberadaan JPO di kawasan Rasuna Said yang dinilai tidak efektif bagi pejalan kaki. Simak ulasan lengkapnya di sini.

MhdDaniel
MhdDaniel Chief Editor
calendar_today Aug 26, 2026 schedule 4:45 AM visibility 0 chat_bubble 0
N
News
NEWS CARD
Logo
Alasan Pramono Anung Kritik JPO 'Love-Hate' di Rasuna Said: Menyorot Estetika dan Aksesibilitas
“Alasan Pramono Anung Kritik JPO 'Love-Hate' di Rasuna Said: Menyorot Estetika dan Aksesibilitas”
Favicon
Read more on www.dkijakarta.id/s/0792f1
26 Aug 2026
https://www.dkijakarta.id/s/0792f1
Copied
Alasan Pramono Anung Kritik JPO 'Love-Hate' di Rasuna Said: Menyorot Estetika dan Aksesibilitas
Image via Pexels - Alasan Pramono Anung Kritik JPO 'Love-Hate' di Rasuna Said: Menyorot Estetika dan Aksesibilitas

Key Highlights

  • Pramono Anung mengkritik desain JPO di kawasan Rasuna Said yang dianggap tidak ramah pejalan kaki.
  • Struktur jembatan dinilai lebih mengutamakan estetika daripada fungsi aksesibilitas.
  • Evaluasi tata kota Jakarta menjadi fokus utama dalam diskursus pembangunan infrastruktur pedestrian.

Kritik Terhadap Fungsi Infrastruktur

Pembangunan infrastruktur di kawasan elit Rasuna Said, Jakarta Selatan, kembali menjadi sorotan. Pramono Anung secara terbuka menyampaikan kritik terkait Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) yang kerap disebut sebagai konsep 'love-hate relationship'. Sebutan ini merujuk pada desain jembatan yang dinilai megah namun menyulitkan akses bagi warga yang hendak melintas.

Banyak pihak menilai bahwa penempatan tangga dan desain arsitektur yang terlalu kompleks membuat masyarakat justru enggan menggunakan fasilitas tersebut. Pengguna jalan seringkali memilih untuk menyeberang di jalur bawah karena alur JPO yang dinilai memutar dan menguras tenaga. Hal ini menjadi paradoks di tengah upaya pemerintah untuk memodernisasi wajah kota.

Pentingnya Evaluasi Fasilitas Publik

Perencanaan kota yang ideal seharusnya menempatkan kemudahan akses sebagai prioritas utama. Kritikan ini menekankan bahwa pembangunan estetika fisik tidak boleh mengesampingkan kenyamanan masyarakat sebagai pengguna utama. Fasilitas publik yang seharusnya mempermudah mobilitas justru menjadi beban jika tidak dirancang dengan prinsip inklusivitas.

Di sisi lain, perbaikan infrastruktur di Jakarta terus dilakukan di berbagai sektor. Sebagaimana halnya Kemenkes Terapkan Standar Global: Akreditasi RS Kini Fokus pada Pengalaman Pasien, pelayanan publik seharusnya memang harus mengedepankan sisi pengguna. Evaluasi terhadap JPO di Rasuna Said diharapkan dapat menjadi pembelajaran agar pembangunan serupa di masa depan lebih berbasis pada kebutuhan nyata warga di lapangan.

Tetap ikuti DKIJakarta News untuk perkembangan terbaru mengenai kebijakan tata kota dan pembangunan infrastruktur di ibu kota.

auto_awesome Ai Assisted

This article is curated and summarized by AI from multiple sources.

favorite Follow us for the latest updates:
Author
MhdDaniel

MhdDaniel Chief Editor

history Digital Archives

View Full Library chevron_right

Follow Us

keyboard_arrow_up
amp_stories Web Stories
login Login
local_fire_department Trending menu Menu