Key Highlights

  • Sebanyak 50 kepala keluarga di Kepulauan Selayar masih menempati tenda darurat pasca gempa bumi.
  • Faktor utama warga enggan kembali adalah trauma mendalam terhadap potensi gempa susulan.
  • Bantuan logistik dan pemulihan psikologis menjadi kebutuhan mendesak bagi para penyintas.

Kondisi Terkini di Lokasi Pengungsian

Hingga saat ini, suasana di posko pengungsian wilayah terdampak gempa di Kepulauan Selayar masih dipenuhi kecemasan. Sekitar 50 keluarga memilih untuk tetap bertahan di bawah tenda darurat daripada kembali ke rumah mereka yang mengalami kerusakan.

Getaran gempa yang sempat melanda wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) dan terasa hingga ke wilayah pesisir Sulawesi Selatan meninggalkan dampak psikologis yang cukup berat. Warga mengaku lebih tenang berada di lapangan terbuka dibandingkan harus tidur di dalam bangunan permanen yang retak.

Kebutuhan Mendesak Penyintas

Pihak berwenang bersama sukarelawan terus mendata kebutuhan pokok bagi para warga. Selain ketersediaan air bersih dan makanan, pendampingan kesehatan mental bagi anak-anak serta lansia menjadi prioritas utama guna memulihkan rasa trauma.

Aksi kemanusiaan serupa untuk membantu mereka yang membutuhkan penanganan medis sering kali mendapat apresiasi tinggi dari pemerintah, sebagaimana terlihat dalam upaya Dinkes Apresiasi Aksi Sosial Operasi Bibir Sumbing MNC Peduli dan RS Azra Bogor yang berfokus pada kesehatan masyarakat rentan. Pemerintah daerah setempat kini terus berkoordinasi untuk memastikan distribusi bantuan tepat sasaran selama masa tanggap darurat berlangsung.

Di tengah pemulihan ini, masyarakat diharapkan tetap waspada terhadap informasi resmi dari otoritas terkait. Tetap ikuti DKIJakarta News untuk perkembangan terbaru mengenai kondisi pengungsi di Kepulauan Selayar.