Rektor Yarsi Kritisi Absennya Standar Baku Kampus Ramah Disabilitas di Indonesia

Rektor Universitas Yarsi menyoroti perlunya standardisasi fasilitas kampus ramah disabilitas demi menjamin akses pendidikan inklusif yang merata.

MhdDaniel
MhdDaniel Chief Editor
calendar_today Sep 10, 2026 schedule 4:45 AM visibility 0 chat_bubble 0
N
News
NEWS CARD
Logo
Rektor Yarsi Kritisi Absennya Standar Baku Kampus Ramah Disabilitas di Indonesia
“Rektor Yarsi Kritisi Absennya Standar Baku Kampus Ramah Disabilitas di Indonesia”
Favicon
Read more on www.dkijakarta.id/s/5e7e1d
10 Sep 2026
https://www.dkijakarta.id/s/5e7e1d
Copied
Rektor Yarsi Kritisi Absennya Standar Baku Kampus Ramah Disabilitas di Indonesia
Image via Pexels - Rektor Yarsi Kritisi Absennya Standar Baku Kampus Ramah Disabilitas di Indonesia

Key Highlights

  • Penyediaan fasilitas bagi penyandang disabilitas di perguruan tinggi masih bersifat sporadis dan belum memiliki standar nasional.
  • Institusi pendidikan didorong untuk segera melakukan audit infrastruktur agar aksesibilitas mahasiswa dengan disabilitas terjamin.
  • Kurangnya pedoman teknis menjadi penghambat utama dalam mewujudkan ekosistem kampus yang benar-benar inklusif.

Tantangan Aksesibilitas di Perguruan Tinggi

Rektor Universitas Yarsi menekankan pentingnya kehadiran regulasi yang mengatur standarisasi fasilitas ramah disabilitas di lingkungan perguruan tinggi. Hingga saat ini, banyak institusi pendidikan tinggi yang belum memiliki panduan teknis yang seragam, sehingga penyediaan sarana prasarana aksesibel sering kali terabaikan dalam perencanaan jangka panjang.

Kondisi ini menciptakan hambatan nyata bagi calon mahasiswa maupun tenaga pendidik dengan kebutuhan khusus. Fasilitas seperti jalur difabel, ruang kelas aksesibel, hingga perpustakaan yang mendukung teknologi asistif masih menjadi barang langka di berbagai kampus di Indonesia.

Pentingnya Ekosistem Inklusif

Pendidikan yang inklusif bukan sekadar memberikan kuota penerimaan, tetapi juga menyediakan lingkungan belajar yang memungkinkan setiap individu untuk berpartisipasi penuh. Tanpa adanya aturan yang mengikat dan standar kualitas yang jelas, upaya menciptakan kampus ramah disabilitas akan terus berjalan di tempat.

Diskusi mengenai literasi digital dan kesehatan mental juga menjadi perhatian dunia pendidikan, sebagaimana tren Fenomena Brain Rot: Saat Durasi Perhatian Digital Kita Kian Terkikis yang kini mulai mempengaruhi cara mahasiswa memproses informasi di kelas. Namun, fokus utama tetap pada penyediaan ruang fisik dan digital yang tidak diskriminatif bagi seluruh civitas akademika.

Langkah Nyata Menuju Perubahan

Pihak universitas diharapkan mulai melakukan pemetaan infrastruktur secara berkala untuk memastikan bangunan kampus memenuhi kaidah aksesibilitas. Pemerintah melalui kementerian terkait juga diharapkan dapat mengeluarkan pedoman teknis yang dapat diadopsi oleh seluruh perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, agar pendidikan tinggi benar-benar menjadi ruang bagi semua kalangan.

Untuk liputan berita yang lebih mendalam mengenai kebijakan pendidikan nasional, kunjungi DKIJakarta.id.

auto_awesome Ai Assisted

This article is curated and summarized by AI from multiple sources.

favorite Follow us for the latest updates:
Author
MhdDaniel

MhdDaniel Chief Editor

history Digital Archives

View Full Library chevron_right

Follow Us

keyboard_arrow_up
amp_stories Web Stories
login Login
local_fire_department Trending menu Menu