Ta’zhim atau Kultus? Menimbang Konsep Ngalap Berkah dalam Pandangan Muhammadiyah

Membedah fenomena ngalap berkah dalam perspektif Muhammadiyah, membedakan antara sikap ta'zhim yang wajar dan praktik kultus individu yang berlebihan.

MhdDaniel
MhdDaniel Chief Editor
calendar_today Aug 13, 2026 schedule 5:15 AM visibility 0 chat_bubble 0
N
News
NEWS CARD
Logo
Ta’zhim atau Kultus? Menimbang Konsep Ngalap Berkah dalam Pandangan Muhammadiyah
“Ta’zhim atau Kultus? Menimbang Konsep Ngalap Berkah dalam Pandangan Muhammadiyah”
Favicon
Read more on www.dkijakarta.id/s/67dfc4
13 Aug 2026
https://www.dkijakarta.id/s/67dfc4
Copied
Ta’zhim atau Kultus? Menimbang Konsep Ngalap Berkah dalam Pandangan Muhammadiyah
Image via Pexels - Ta’zhim atau Kultus? Menimbang Konsep Ngalap Berkah dalam Pandangan Muhammadiyah

Key Highlights

  • Muhammadiyah menegaskan pentingnya membedakan antara penghormatan kepada figur dan pemujaan berlebihan.
  • Fenomena 'ngalap berkah' sering kali bersinggungan dengan praktik kultus yang tidak memiliki landasan dalil kuat.
  • Pendidikan akidah menjadi kunci utama dalam menjaga kemurnian tauhid di tengah masyarakat.

Membedakan Ta’zhim dan Kultus

Di tengah dinamika kehidupan beragama di Indonesia, istilah 'ngalap berkah' atau mencari keberkahan melalui perantara figur tertentu kerap menjadi perbincangan hangat. Muhammadiyah secara konsisten mengingatkan umat agar tetap waspada dalam menempatkan rasa hormat kepada ulama atau tokoh agama. Ta’zhim atau menghormati sosok alim ulama adalah sebuah kewajiban etis, namun hal ini harus tetap berada dalam koridor penghormatan antarmanusia, bukan pengkultusan yang mencederai akidah.

Kultus individu muncul ketika seorang tokoh dipandang memiliki kekuatan sakral yang melampaui kewajaran manusia. Dalam pandangan Muhammadiyah, keberkahan sejatinya datang langsung dari Allah SWT melalui perantara amal saleh dan ketakwaan, bukan sekadar mendekati sosok tertentu untuk mendapatkan karamah atau kemudahan hidup.

? Did You Know? Muhammadiyah menekankan konsep 'Tajdid' atau pembaruan pemahaman keagamaan yang berfokus pada kembali ke Al-Qur'an dan Sunnah untuk memurnikan praktik ibadah dari tradisi yang menyimpang.

Pentingnya Literasi Agama di Tengah Tradisi

Memahami batasan antara tradisi lokal dan ajaran Islam yang murni menjadi tantangan besar di era keterbukaan informasi. Banyak masyarakat yang terjebak dalam praktik kultus karena minimnya pemahaman mengenai dalil yang sahih terkait perilaku 'ngalap berkah'. Muhammadiyah aktif melakukan dakwah pencerahan agar umat tidak terjebak pada fanatisme buta kepada individu yang justru bisa membawa pada pergeseran nilai tauhid.

Menjaga Kemurnian Akidah

Pendekatan dakwah yang moderat dan berbasis keilmuan terus dikedepankan guna menyikapi fenomena ini secara objektif. Masyarakat diajak untuk lebih mengutamakan nalar kritis dalam beragama dan tidak mudah tergiur dengan praktik yang tidak memiliki dasar kuat dalam sejarah peradaban Islam awal. Langkah ini selaras dengan upaya pemerintah dalam menata ekosistem keagamaan di tanah air, sebagaimana tercermin dalam semangat kebangsaan yang juga diserukan saat Haul Pangeran Diponegoro: Wamensos Ajak Masyarakat Teladani Semangat Juang.

Edukasi berkelanjutan menjadi instrumen utama agar umat Islam Indonesia semakin dewasa dalam bersikap di tengah arus budaya populer keagamaan. Tetap ikuti DKIJakarta News untuk perkembangan terbaru mengenai isu sosial dan keagamaan di Indonesia.

auto_awesome Ai Assisted

This article is curated and summarized by AI from multiple sources.

favorite Follow us for the latest updates:
Author
MhdDaniel

MhdDaniel Chief Editor

history Digital Archives

View Full Library chevron_right

Follow Us

keyboard_arrow_up
amp_stories Web Stories
login Login
local_fire_department Trending menu Menu