Data DTKS Salah Sasaran: Tukang Becak di Kulon Progo Masuk Kategori Mampu

Seorang tukang becak di Kulon Progo terdaftar sebagai Desil 9 dalam data DTKS, menyebabkannya kesulitan mengakses bantuan biaya kuliah untuk anaknya.

MhdDaniel
MhdDaniel Chief Editor
calendar_today Oct 21, 2026 schedule 7:00 AM visibility 1 chat_bubble 0
N
News
NEWS CARD
Logo
Data DTKS Salah Sasaran: Tukang Becak di Kulon Progo Masuk Kategori Mampu
“Data DTKS Salah Sasaran: Tukang Becak di Kulon Progo Masuk Kategori Mampu”
Favicon
Read more on www.dkijakarta.id/s/fff8b7
21 Oct 2026
https://www.dkijakarta.id/s/fff8b7
Copied
Data DTKS Salah Sasaran: Tukang Becak di Kulon Progo Masuk Kategori Mampu
Image via Pexels - Data DTKS Salah Sasaran: Tukang Becak di Kulon Progo Masuk Kategori Mampu

Key Highlights

  • Seorang pengemudi becak di Kulon Progo mendapati status ekonominya tercatat sebagai Desil 9 dalam sistem DTKS.
  • Kondisi ini menghambat akses keluarga terhadap beasiswa pendidikan bagi sang anak yang hendak berkuliah.
  • Ketidaksesuaian data memicu kekhawatiran masyarakat terkait validitas verifikasi lapangan program bantuan pemerintah.

Anomali Data Sosial di Kulon Progo

Sebuah temuan mengejutkan muncul terkait akurasi Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) di Kabupaten Kulon Progo. Seorang warga yang berprofesi sebagai penarik becak justru tergolong dalam Desil 9, kategori yang dalam klasifikasi ekonomi dianggap sebagai kelompok keluarga mampu. Akibatnya, ia kehilangan akses terhadap berbagai bentuk bantuan sosial, termasuk akses beasiswa untuk menunjang pendidikan tinggi anaknya.

Dampak Nyata bagi Pendidikan

Status ekonomi yang salah sasaran ini membawa beban psikologis dan finansial bagi sang ayah. Biaya kuliah yang harus ditanggung secara mandiri terasa sangat memberatkan, mengingat penghasilan harian dari menarik becak sangatlah terbatas dan tidak menentu. Keluarga ini berharap adanya verifikasi ulang oleh pihak berwenang agar status mereka dapat disesuaikan dengan realitas ekonomi di lapangan.

Tantangan Verifikasi Data Lapangan

Kasus ini menjadi cerminan dari kompleksitas pembaruan data kemiskinan yang dilakukan secara berkala. Kesalahan input atau tidak terbarunya data saat verifikasi di tingkat bawah kerap kali merugikan warga yang benar-benar membutuhkan dukungan pemerintah. Sektor pelayanan publik memang harus diperketat, serupa dengan pengawasan intensif dalam kasus hukum seperti Tim Labfor Polri Gelar Olah TKP Kedua di Mordent Clinic, Usut Kematian Sutrimo yang menuntut transparansi tinggi.

Pemerintah daerah diharapkan segera merespons laporan ini dengan melakukan audit data secara transparan di tingkat kelurahan. Validitas data yang akurat menjadi kunci agar bantuan pendidikan dapat menyentuh mereka yang paling membutuhkan. Untuk liputan berita yang lebih detail mengenai kebijakan sosial dan peristiwa terkini, kunjungi DKIJakarta.id.

auto_awesome Ai Assisted

This article is curated and summarized by AI from multiple sources.

favorite Follow us for the latest updates:
Author
MhdDaniel

MhdDaniel Chief Editor

history Digital Archives

View Full Library chevron_right

Follow Us

keyboard_arrow_up
amp_stories Web Stories
login Login
local_fire_department Trending menu Menu