Mahkamah Konstitusi Putuskan Penghinaan Presiden Harus Berbasis Laporan Resmi

MK menetapkan bahwa delik penghinaan terhadap Presiden dan Wapres kini bersifat delik aduan, memastikan proses hukum hanya berjalan atas laporan korban.

MhdDaniel
MhdDaniel Chief Editor
calendar_today Sep 5, 2026 schedule 1:30 PM visibility 0 chat_bubble 0
N
News
NEWS CARD
Logo
Mahkamah Konstitusi Putuskan Penghinaan Presiden Harus Berbasis Laporan Resmi
“Mahkamah Konstitusi Putuskan Penghinaan Presiden Harus Berbasis Laporan Resmi”
Favicon
Read more on www.dkijakarta.id/s/bd086b
5 Sep 2026
https://www.dkijakarta.id/s/bd086b
Copied
Mahkamah Konstitusi Putuskan Penghinaan Presiden Harus Berbasis Laporan Resmi
Image via Pexels - Mahkamah Konstitusi Putuskan Penghinaan Presiden Harus Berbasis Laporan Resmi

Key Highlights

  • Mahkamah Konstitusi menegaskan bahwa delik penghinaan terhadap Presiden dan Wakil Presiden kini dikategorikan sebagai delik aduan.
  • Proses hukum hanya bisa berjalan jika pihak yang dihina, yakni Presiden atau Wakil Presiden, membuat laporan resmi ke kepolisian.
  • Putusan ini bertujuan memberikan kepastian hukum dan melindungi kebebasan berpendapat yang konstitusional.

Perubahan Mekanisme Hukum Penghinaan Presiden

Mahkamah Konstitusi (MK) telah mengeluarkan putusan penting terkait aturan penghinaan terhadap Presiden dan Wakil Presiden dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Berdasarkan putusan terbaru, pasal-pasal yang mengatur penghinaan terhadap kepala negara tidak lagi bersifat delik biasa, melainkan berubah menjadi delik aduan absolut.

Artinya, aparat penegak hukum tidak bisa lagi memproses perkara ini secara proaktif atau melakukan penangkapan tanpa adanya laporan langsung dari pihak yang merasa dihina. Langkah ini diambil untuk menghindari potensi kriminalisasi yang berlebihan terhadap masyarakat dalam menyampaikan kritik.

? Did You Know? Dalam sistem hukum Indonesia, delik aduan adalah jenis tindak pidana yang hanya bisa diproses apabila korban atau pihak yang dirugikan memberikan aduan atau laporan resmi kepada pihak berwajib.

Keseimbangan Antara Martabat Negara dan Kebebasan Berekspresi

Putusan ini menyoroti batasan tegas antara kritik yang bersifat konstruktif dengan tindakan yang masuk kategori penghinaan. MK menekankan bahwa martabat Presiden sebagai simbol negara tetap perlu dilindungi, namun perlindungan tersebut tidak boleh membungkam aspirasi publik.

Dengan berlakunya aturan ini, setiap aduan yang masuk nantinya harus melalui verifikasi ketat. Hal ini diharapkan mampu menekan penyalahgunaan pasal-pasal karet dalam ruang siber maupun interaksi fisik di masyarakat. Kebijakan ini sekaligus menjadi tolok ukur baru bagi demokrasi di tanah air yang terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Di tengah perdebatan hukum dan isu publik lainnya, beberapa topik krusial juga sedang menjadi sorotan di ibu kota, termasuk Pramono Anung usul sistem pembayaran nirsentuh untuk integrasi Transjakarta dan LRT yang bertujuan memperbaiki efisiensi transportasi publik. Untuk liputan berita yang lebih detail, kunjungi DKIJakarta.id.

auto_awesome Ai Assisted

This article is curated and summarized by AI from multiple sources.

favorite Follow us for the latest updates:
Author
MhdDaniel

MhdDaniel Chief Editor

history Digital Archives

View Full Library chevron_right

Follow Us

keyboard_arrow_up
amp_stories Web Stories
login Login
local_fire_department Trending menu Menu